Iklan hari raya

*”Mahasiswa atau Anak Kuliah”*

0 231

Aulia Prasetya”
Gubernur FKIP USM
Sekretaris HMI Kom. FKIP

*”Mahasiswa atau Anak Kuliah”*

BANDA ACEH ATJEHTRIBUNE.COM- “Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tapi, aku memilih untuk menjadi manusia merdeka”.
_(Soe Hok Gie)_Dan bagi saya, itu adalah salah satu nasehat yang benar-benar relevan saat menjadi aktivis mahasiswa.

Tahun 2015 saya memutuskan melanjutkan kuliah di Universitas Serambi Mekkah, Sebagai anak dari pulau Weh (Sabang) , saya ke ibukota Banda Aceh dengan membawa do’a dan harapan dari keluarga saya, bahwa saya hanya akan fokus berkuliah, dan kemudian membangun karir.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan itu semua. Bahkan awalnya saya berniat kuliah, kuliah, dan kuliah. Terlebih lagi sebagai warga miskin dan mencari biaya sendiri untuk kuliah. Saya sebagai mahasiswa pun menjadikan satu-satunya hal yang saya fokuskan pada masa-masa awal perkuliahan.

Sampai kemudian Krisis Keuangan untuk membayar SPP terjadi. Dari semester 1- 3. Setiap menjelang final saya harus memohon untuk dispensasi biaya perkulihan dan memaksakan diri harus mampu bekerja, dari bangunan harian, ngecor pondasi, kerja di warung kopi, cuci piring di warung makan, jualan dimsum, Jualan Ikan hias, dan apa saja yang bisa di jadikan uang yang oenting halal. Itu semua tidak menganggu nilai akademik saya pada saat itu IPK saya di atas Rata Rata.

Untungnya, di semester 4 Saya mendapatkan beasiswa Prestasi dari kampus, itu semua tidak terlepas dari kerja keras dan Do’a serta Link dari organisasi. Organisasi yang pertama kali saya ikuti _Himpunan Mahasiswa islam (HMI)_ disinilah saya dididik, ditempa dan di gempleng. Mulai memiliki tujuan, mendapatkan jati diri, memiliki sebuah cita cita dan mimpi.
Hingga kerja keras, Keberanian, dan pantang menyerah membuahkan hasil dengan di Amanahkan sebuah tanggung jawab.

Ketua Bidang maupun pengurus di berbagai Organisasi, Ketua Umum HMJ Kimia, Sekretaris Umum HMI kom. FKIP, Sekretaris Umum LAPMI Aceh Besar dan Gubernur FKIP. Lantas itu semua tidak menganggu nilai akdemik saya terlebih lagi sebagai penerima beasiswa yang bisa dicabut jika performa akademik saya jelek kewajiban kuliah juga harus saya fokuskan pada saat perkulihan.

Pada tahun 2016 awal membuat saya bisa membangun networking dengan banyak aktivis mahasiswa dari kampus-kampus lain di wilayah Indonesia untuk mengikuti event-event Mahasiswa Nasional maupun Daerah.
Yang membuat saya bersemangat untuk berinteraksi dengan mereka, adalah kepekaan dan kepedulian nyata yang mereka miliki terhadap berbagai isu-isu sosial, politik yang ada di masyarakat. Mereka menghabiskan waktu mereka tidak hanya memikirkan nasib sendiri di ruang-ruang kuliah. Mereka bersentuhan dengan banyak permasalahan yang dikeluhkan warga, dan mereka ternyata sungguh mempunyai eksistensi yang cukup berpengaruh.

Related Posts

Satu hal yang akhirnya jelas-jelas berubah pada diri saya sejak saat itu, adalah munculnya kesadaran bahwa status MAHA-siswa, bukanlah status yang sama biasanya ketika kita pertama kali masuk SD, SMP, atau SMA. Pengetahuan baru pun membuka mata saya, bahwa ada banyak sekali permasalahan lain diluar persoalan akademik di kampus, yang wajib untuk dipikirkan atau disadari keberadaannya oleh mereka yang mengaku berstatus mahasiswa.

Bagaimana tidak, negara ini saja dibangun oleh para kaum cendikia. Maka sudah seharusnya mahasiswa sebagai bagian dari pemuda, kaum terdidik, dan sebagai bagian dari generasi millenial yang akan membangun bangsa ini di masa depan, turut terlibat aktif dalam sistem sosial kemasyarakatan kita, termasuk dalam sistem politik.

Sebab Sejarah Indonesia sendiri telah membuktikan bahwa status mahasiswa mempunyai peran politis dan nilai historis yang tidak main-main. Belajarlah dari generasi Angkatan ’45, Angkatan ’66, hingga para reformis Angkatan ’98.

Menjadi mahasiswa yang melek politik, bukan berarti lantas menjadikan kampus sebagai arena untuk politik praktis. Sebab, “politik itu barang yang kotor”, dan kampus sebagai lembaga ilmiah, tidak selayaknya dikotori oleh kepentingan-kepentingan politik praktis.
Karena itu sudah selayaknya mahasiswa yang dibangku kuliahan
meluangkan waktu untuk memikirkan, menjawab pertanyaan dan tuntutan-tuntuan realita sosial tersebut.

Hal-hal seperti kenaikan harga BBM, korupsi di banyak lembaga negara, hingga persoalan ketidakadilan hukum, kebebasan beragama, dan berbagai ketidakadilan sosial lainnya, adalah contoh realita-realita yang sudah selayaknya direspon oleh mahasiswa. Tidak lagi hanya sekadar ke kampus untuk memikirkan berapa IPK yang harus diraih di akhir semester nanti.

*Anak kuliahan*, ke kampus hanya untuk berkuliah. *Mahasiswa*, ke kampus untuk belajar. Dan pembelajaran itu diperoleh jauh lebih banyak di luar lingkaran mata kuliah yang diajarkan dosen di kelas. Kepekaan dan kepedulian sosial, pendidikan moral dan kemanusiaan berdasarkan common courtesy (bukan yang basisnya subjektif seperti agama atau budaya normatif), diperoleh ketika mahasiswa bersentuhan langsung dengan masyarakat.

*_Tidak afdhal seseorang menjadi mahasiswa, jika ia tidak pernah ikut demonstrasi.”_*

Sebuah ajakan untuk menjadi peduli dengan realita sosial di sekitar kita, bukan nilai akademik semata. Ajakan untuk benar-benar menjadi seorang mahasiswa, bukan sekadar anak kuliahan saja.