Iklan hari raya

Ketum SPBI Iswadi, Jangan Nodai Demokerasi Dengan Tindakan Tak Terpuji

0 253
  1. Ketum SPBI, Iswadi, Jangan Nodai Demokrasi dengan Tindakan Tak Terpuji

    JAKARTA ATJEHTRIBUNE.COM Membaca berita di media online dan menonton rekaman kejadian dua kubu pendukung dari masing-masing kandidat calon Presiden,(Capres) kasus penembakan yang menewaskan satu orang di Sampang, Madura, Jawa Timur hanya gara cekcok soal beda pilihan di Pilpres 2019. dan insiden pengrusakan atribut Partai di berbagai daerah, “hati kita  terasa tergores karena proses tahapan Pilpres sudah tercemar dengan aksi anarkis tersebut.

Apapun alasannya, tindakan mereka merupakan tindakan tak terpuji. Demokrasi dibebaskan di negara ini bukan untuk dipergunakan sebebas-bebasnya, sehingga tak terkendali. Kita harus prihatin dengan keadaan ini. Apalagi bila membaca dan melihat semua kejadian itu. Memalukan dan mencoreng arti demokrasi yang sesungguhnya. Berbeda pendapat boleh. Berbeda pikiran boleh. Karena memang kita dilahirkan berbeda. Adanya perbedaan bukannya kita saling menghancurkan, tetapi justru saling memahami dan menghargai pendapat orang lain. Hal itu disampaikan Ketua Umum Solidaritas Pemersatu Bangsa Indonesia (SPBI) yang juga merupakan Akademisi di Jakarta, Iswadi, M.Pd  kepada  Atjehtribune.com, Sabtu (12/1/2019).

Mantan Dekan III FKIP Universitas Serambi Mekkah Aceh ini menghimbau pendukung kedua Capres 2019. dan segenap masyarakat agar tidak anarkis. Semua pendukung Capres  atau Parpol serta Calon Legislatif disemua tingkatan  bisa menjadi agen edukasi politik bagi masyarakat . Ajarilah rakyat kita dengan cara intelek, mencerdaskan dan menggembirakan. “Saya selalu pesan pada  semua teman-teman yang menjadi timses agar santun karena budaya kita bukan budaya kekerasan,”.

Mahasiswa Program Doktoral Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta ini mengatakan bahwa di sinilah kita akan menjadi orang yang bijaksana. Mampu menerima perbedaan dan mencari persamaan dari perbedaan-perbedaan itu.

Karena esensi dari perbedaan itu memiliki tujuan yang sama. Peristiwa ini sungguh menodai demokrasi kita. Demokrasi yang baru saja kita nikmati setelah era Reformasi. Demokrasi yang telah disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mencapai kekuasaan. “Wahai saudaraku diseluruh Indonesia , jangan nodai demokrasi kita. Bertindaklah yang santun dan lemah lembut. Tidak adakah lagi sifat kasih dan sayang dalam diri kita, sehingga kita  korbankan saudara kita demi ego yang menyelimuti kita. Sadarlah wahai saudaraku, demokrasi tidak dengan memaksakan kehendak. Demokrasi tumbuh dan lahir untuk menghargai perbedaan. Stop!! Ini adalah kejadian terakhir kali kita menggunakan cara-cara kekerasan.

Sebagai bangsa yang terkenal santun, baik tutur katanya, maupun budi pekertinya jangan engkau gunakan kekerasan untuk memaksakan kehendakmu. Karena itu mari kita berdemokrasi dengan nurani yang bersih dan saling menyayangi diantara kita. Semoga  Allah swt  selalu menerangi hati kita menuju kepada keluhuran budi. Pandai memadukan tata rasa, tata pikir, dan tata tindakan yang berujung kepada akhlaqul karimah. Akhlak yang telah dicontohkan oleh leluhur kita terdahulu. Dan kita mengharapkan masyarakat memilih pilihan sesuai dengan hati nuraninya. Sebab semua pasangan calon yang ada sekarang adalah merupakan putra-putra terbaik Indonesia.” papar Iswadi.

Putra kelahiran Desa Mesjid Laweung Kabupaten Pidie ini  mengharapkan  aparat agar tegas segera menyelesaikan semua  masalah tersebut. Polisi harus tegas kalau menghadapi tindakan yang meresahkan masyarakat, anarkis, dan  dapat mencegah kejadian serupa terulang kembali dibumi Nusantara. Jangan sampai peristiwa yang menewaskan satu orang di Sampang, Madura, Jawa Timur terulang kembali di Indonesia. Demikian Iswadi. (Redaksi).