Iklan hari raya

Pengarang Ternama Aceh, Azhari Aiyub Raih Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa

0 80

Salah seorang pengarang ternama Aceh yang juga pengasuh halaman budaya Harian Serambi Indonesia, Azhari Aiyub, memenangkan penghargaan kusala sastra khatulistiwa ke-18 kategori prosa, untuk novelnya yang berjudul “Kura-kura Berjanggut”.

Kemenangan “Kura-Kura Berjanggut” diumumkan Rabu (10/10/2018) malam di Jakarta, setelah melalui seleksi sangat ketat.

Novel dengan tebal mendekati.1000 halaman itu ditulis Azhari sejak 2006.

Merupakan salah satu novel yang menghadirkan suasana negeri Lamuri abad 17.

Bercerita tentang komplotan bajak laut yang menata rencana rapi membunuh Sultan Nuruddin di Lamuri.

Nuruddin dianggap telah melakukan makar dan membunuh Sultan terdahulu untuk menduduki tahtanya.

Suasana kota pelabuhan dan persinggahan kapal-kapal asing menjadi bagian tak terpisahkan dari novel yang menggetarkan ini.

Digenapkan dengan intrik para pengawal istana, upacara adu gajah yang tragik serta pertempuran-pertempuran hebat di laut.

Azhari Aiyub, si lincah dari Lamjame Aceh Besar, sebelumnya telah menerbitkan dua kumpulan cerpen; Perempuan Pala (2004) dan The Garden of Delights and Other Tales (2015).

Perempuan Pala telah diterjemahkan ke dalam dua bahasa; Inggris dan Prancis.

Azhari Aiyub pada 2003 memenangkan juara pertama sayembara menulis cerpen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kemudian pada 2005 meraih penghargaan Free Word Award dari Poets of All Nation Belanda.

Selain menulis novel, Azhari juga menulis puisi dan esai. Puisinya “Ibuku Bersayap Merah” ditulis setelah peristiwa tsunami Aceh 2014.

Azhari lahir 5 Oktober 1981, dari keluarga sederhana. Bapaknya, almarhum M Ayub Ibrahim (44), adalah tukang kayu, dan ibunya, almarhumah Halimah (40), ibu rumah tangga biasa.

Anak pertama dari dua saudara ini pernah kuliah tapi tak selesai di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Mendirikan Tikar Pandan, bersama kolega-kolega cemerlangnya, Reza Idria, Fozan Santa, dan mengembangkan iklim diskusi dan mengajar sekolah menulis Do Karim.

Komunitas Tikar Pandan, salah satu komunitas yang mewarnai perjalanan Aceh di era konflik dan pasca konflik dan tsunami Aceh.