Iklan hari raya

Pidie Diserbu Emping Palembang

0 31

Kabupaten Pidie yang dikenal sebagai produsen emping melinjo di Aceh, bahkan menjadi ikon kabupaten itu mulai diserbu produksi serupa dari Palembang, Sumatera Selatan. Pemkab Pidie tak tinggal diam, langsung membentuk Tim Inisiator Pengembangan Melinjo (TIMP) Pidie yang diketuai Dr Fauzi Harun MSi.

Dilaporkan, potensi produksi biji melinjo Pidie terus turun dalam dalam sepuluh tahun terakhir, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar. Peluang itu langsung dimanfaatkan para pedagang Sumatera Selatan untuk memasok emping setiap pekan dengan jumlah sampai 8 ton ke pasar Meuling, Kota Beureuneun, Pidie.

Fauzi Harun kepada Serambi, Selasa (6/11) mengatakan sesuai hasil rapat dengan Bupati Pidie, Roni Ahmad bahwa potensi produksi emping terus turun. “Dari hasil keterangan pedagang, sekitar 8 ton biji Melinjo dari luar daerah masuk ke pusat pasar Meuling, Kota Beureunuen,” jelasnya.

Dia menjelaskan jumlah produksi biji melinjo di Pidie terus turun setiap tahun, sehingga dimanfaatkan oleh produsen melinjo luar daerah. “Jika pemerintah tidak segera menyahuti budidaya melinjo, maka tidak tertutup kemungkinan, biji melinjo di Pidie akan tinggal nama,” ujar Fauzi Harun.

Dia menegaskan pemerintah harus segera melakukan pengembangan lewat program penanaman kembali melinjo melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan maupun Dinas Perkebunan (Disbun). Fauzi mengharap masyarakat juga harus ikut membudidayakan kembali tanaman melinjo secara massal di seluruh kecamatan.

Menurut Fauzi, tanaman melinjo merupakan tanaman endemik yang telah memberikan manfaat dalam pengembangan ekonomi masyarakat secara turun temurun. “Jika dikaji, tanaman ini sudah ada ratusan tahun di Pidie yang tumbuh sendiri dan bukan ditanam secara khusus oleh warga,” ungkapnya.

Dia mengatakan harus dilakukan upaya penanaman lewat program pemerintah selaku penanggungjawab ikon daerah ini. Disebutkan, sebagai bukti konkrit penyelematan tanaman ikon Pidie itu, TIPM Pidie telah membentuk tim pengurus dengan anggota Rauna Mahfud SSos, Bahagia Bakhri, Nadri Hamzah SSos, Muhammad SHut, dan Tgk Adnan Ubat Kareung.

Dilansir sebelumnya, harga emping melinjo di pasar Kota Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Pidie turun, dari 70.000 menjadi Rp 60.000 sekili dalam dua pekan terakhir ini. Mukhlis (24) pedagang penampung di pasar Beureunuen, Senin (5/11) mengatakan para petani biji melinjo sedang panen, sehingga stok melimpah yang berimbas turunnya harga.

Dikatakan, harga biji melinjo saat ini Rp 17.000 per bambu atau turun dibandingkan sebelumnya, antara Rp 20.000 sampai Rp 25.000 per bambu.

Menurut dia, harga emping melinjo akan kembali naik bulan depan, karena pasokan dipastikan akan turun, seiring panen biji melinjo semakin sedikit. “Saya memprediksikan harga emping melinjo bakal naik kembali antara Rp 70.000 hingga Rp 75.000 per kilo, karena berdekatan dengan tahun baru, karena biasanya dijadikan sebagai oleh-oleh ke luar daerah,”katanya.

Menanggapi persoalan tersebut, Bupati Pidie, Roni Ahmad, Selasa (6/11) mengatakan program budidaya melinjo ini patut mendapat perhatian serius semua pihak. Dia menyatakan melinjo memiliki nilai ekonomis, sosial, serta ekologi lingkungan.

“Bahkan, melinjo sudah menjadi maskot atau ikon bagi Kabupaten Pidie, karena sudah dikenal secara nasional dan mancanegara, dengan kualitas tinggi dibadingkan dari daerah lain,”jelasnya. Selaku pimpinan daerah dari 23 kecamatan, dia menyatakan siap mendukung rekomendasi yang telah dilakukan Tim Inisiator Pengembangan Melinjo.

Dia berharap harus ada segera langkah-langkah strategis agar program penyelamatan melinjo dapat terealisasi dengan baik. “Saya meminta, agar rekomendasi tersebut dapat difokuskan dan dilaksanakan sesuai aturan berlaku, serta secepatnya ditindak lanjuti melalui koordinasi dengan asisten terkait yaitu Asisten II H Maddan Marhaban SE MSi,” katanya.